Imam Abu Hanifah berkata, "Kisah atau cerita tentang para ulama dan kebaikan-kebaikan mereka lebih aku sukai daripada ilmu fiqh, karena sesungguhnya yang demikian itu adalah tata krama suatu kaum." Beliau kuatkan pernyataan tersebut salah satunya dengan firman Allah,
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal." (Q.S. Yusuf : 111)
Ilmu dalam Islam mempunyai kedudukan yang sangat asasi dan mempunyai keutamaan yang sangar banyak. Dua sebab inilah yang membuat para salaf (orang dahulu) segera bergegas untuk mencari ilmu, memahaminya, sekaligus mangamalkannya dan mendakwahkannya semenjak kecil. Pada kisah mereka ketika mencari ilmu banyak hikmah yang bisa kita ambil, kemudian selayaknya untuk kita renungi. Kebanyakan para salaf mempunyai semangat yang besar dalam mencari ilmu. Mereka akan merantau ke berbagai negeri selama bertahun-tahun dan berguru ke beratus-ratus ulama demi ilmu syar'i.
Imam Ahmad berkata, "Aku merantau untuk menuntut ilmu dan as-sunnah ke Tsaqur, Syam, Sawahil, Maghrib, Al-Jazair, Makkah, Madinah, Hijaz, Yaman, Iraq, Persia, Khurasan, Al-Jibal serta Al-Athraf dan kemudian aku kembali ke Baghdad." Bahkan Ibnul-Jauzy berkata bahwa Imam Ahmad telah berkeliling dunia sebanyak dua kali sehingga ia mampu menyusun kitab Al-Musnad-nya.
Ya'qub bin Sufyan berkata, "Aku telah menulis (hadits) dari 1000 syaikh, semuanya tsiqoh (terpercaya)." Ia juga berkata, " Aku telah merantau (untuk menuntut ilmu) selama 30 tahun."
Sa'id bin Al-Musayyab berkata, "Aku pernah pergi berhari-hari dan bermalam-malam untuk mencari satu hadits."
Muhammad bin Ishaq mendengarkan hadits dari 1700 syaikh. Ia berangkat mengembara untuk menuntut ilmu sewaktu berumur 20 tahun, dan kembali dari pengembaraannya itu sewaktu berumur 65 tahun.
Imam Al-Bukhary berangkat mengembara ke banyak negeri dan mendengarkan hadits dari lebih 1000 orang syaikh.
Jika mereka tak punya biaya untuk berkendaraan dalam perjalanan untuk menuntut ilmu tersebut, mereka akan tetap merantau walau harus dengan jalan kaki.
Muhammad bin Thohir Al-Maqdisy berkata, "Aku telah kencing darah ketika menuntut ilmu (hadits) sebanyak 2 kali, hal ini disebabkan karena aku terus berjalan kaki di terik matahari yang menyengat, dan aku tidak pernah mengendarai kendaraan dalam menuntut ilmu kecuali hanya sekali, aku bawa buku-bukuku di atas punggungku sampai aku tiba di negeri yang kutuju dan aku hidup dalam perantauan itu tanpa minta-minta kepada manusia, aku hidup dengan apa yang Allah berikan kepadaku."
Ibnu Khallikan ketika menceritakan biografi Abu Zakaria At-Tibrizy berkata, "Dia (Abu Zakaria) membacakan kitab dengan (bimbingan) Abul-'Alla Al-Ma'arry dan yang lainnya di kalangan ahli sastra. Adapun sebabnya ia tertuju ke Abul-Alla Al-Ma'arry adalah karena ia mendapat tulisan dari kitab At-Tahdziib dalam ilmu bahasa karangan Abu Manshur Al-Azhary dalam beberapa jilid tipis. Ia ingin mentahqiq (meneliti) isinya dan mengambilnya dari seseorang yang ahli dalam ilmu bahasa. Lalu ia ditunjukkan kepada Al-Ma'arry. Maka ditaruhnya kitab itu dalam keranjang dan dipanggulnya di atas pundak dari kota Tibriz sampai kota Al-Ma'ararah. Dia tidak punya sesuatu untuk membayar biaya kendaraan (sehingga ia hanya berjalan kaki), maka keringatnya bercucuran dari punggungnya sampai pada kitab yang ia bawa sehingga basah dan membekas. Pada waktu berhenti di beberapa tempat di Baghdad, orang yang tidak mengetahui keadaan sesungguhnya mengira kitab tersebut baru saja tenggelam dalam air. Padahal tidak lain penyebabnya adalah keringat seseorang (yang berjalan kaki ) dari kota Tibriz."
Tidak hanya itu saja kesabaran dan semangat mereka. Bahkan hampir seluruh waktu mereka digunakan untuk ilmu agama. Mereka tak melewatkan waktu kecuali untuk mendapatkan kelezatan ilmu.
Ibnu Katsir menceritakan, "Al-Bukhary pernah bangun dari tidur pada suatu malam kemudian ia menyalakan lampu dan menulis ilmu yang terlintas di benaknya kemudian mematikan lampu itu. Lalu ia bangun lagi dan begitu seterusnya hingga sampai kurang lebih 20 kali."
Abul-Wafa' bin 'Aqil Al-Hanbaly berkata, "Tak halal bagiku menyia-yiakan sejam pun dari umurku. Sampai-sampai bila lidahku sudah tak mampu lagi untuk bertutur kata, dan penglihatanku tidak bisa membaca, aku tetap menjalankan daya pikirku meskipun aku terbaring istirahat. Sehingga aku tak akan bangkit, kecuali telah terlintas dalam pikiranku apa yang akan kutulis."
Muhammad Karad 'Ali berkata tentang Ibnu Jarir, "Dia tak pernah menyia-nyiakan semenit pun dari hidupnya tanpa mengambil atau memberi faedah."
Buktinya, ketika Ibnu Jarir menjelang wafatnya, Ja'far bin Muhammad memanjatkan do'a untuknya. Ibnu Jarir kemudian meminta tempat tinta dan selembar kertas dan menulis do'a itu. Dia ditanya, "Apa maksudnya ini ?" Dia menjawab, "Sepantasnyalah bagi seseorang untuk tidak meninggalkan memungut ilmu hingga menjelang kematiannya." Setelah itu, sejam atau kurang dari satu jam, beliau wafat.
Kisah-kisah di atas memang menakjubkan. Semangat dan kesabaran para ulama salaf memang sangat luar biasa. Jika kita bandingkan keadaan mereka dengan keadaan kita sekarang ini, tentulah keadaan kita tidak ada apa-apanya. Bahkan kenyataan yang kita temukan di sekeliling kita sungguh memprihatinkan.
Bila dulu para salaf tidak mengeluh dan selalu semangat berjalan jauh untuk mendapatkan ilmu, maka bandingkanlah dengan kita sekarang ini. Berapa jarak rumah kita dengan masjid-masjid yang di dalamnya diadakan pengajian? Dengan jarak yang kurang dari 500 meter saja kita tetap tidak punya semangat untuk mendatangi majelis pengajian. Sungguh memprihatinkan !
Jika dulu para salaf ikhlas menghabiskan waktu berhari-hari untuk mendapatkan satu atau dua hadits, namun kita masih saja mengemukakan alasan dengan kesibukan ini dan itu jika diajak ke pengajian, padahal waktu pengajian itu tidak sampai 1 jam.
Jika dulu ada seorang dari para salaf yang sampai kencing darah dalam menuntut ilmu, namun hal itu tidak mematahkan semangatnya, maka badan kita pegel-pegel sedikit saja sudah kita jadikan alasan untuk tidak datang ke masjid.
Jika dulu mereka mau berjalan kaki bermil-mil sedangkan zaman sekarang sudah ada kendaraan, namun kita masih saja ogah untuk menaiki kendaraan itu untuk datang ke taklim-taklim.
Inilah keadaan yang lucu. Zaman sekarang sudah lebih mudah sarana dan keadaannya, namun orang dahulu malah lebih bersemangat daripada orang zaman sekarang.
Kita sering berkata, "Seimbanglah antara dunia dan akhirat!" Cobalah balikkan pernyataan itu untuk diri kita sendiri. Berapa perbandingan waktu antara ibadah anda dengan aktivitas selain ibadah anda?
Orang sekarang mau mengeluarkan harta berjuta-juta untuk sekolah anaknya yang notabene orientasinya adalah untuk cari duit dan sukses dunia semata. Namun, majelis pengajian yang berguna untuk dunia dan akherat, yang ditawarkan gratis tanpa biaya, malah sepi nyenyet.
Padahal Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, "Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai tentang dunia, namun bodoh tentang akhirat." (Shahihul-Jami' II/144, 1875).
Ingin dibenci Allah? Tentu saja tidak ! Cobalah renungkan hal ini dan perbaikilah diri kita!
Sumber : Majalah As-Sunnah 10/I/1415-1994, 04/III/1419-1998; Kembali ke Manhaj Sunnah, Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul-Hamid, Al-Uswah; Kedudukan Ilmu dan Ilmuwan dalam Islam, Dr. Naashir bin Sulaiman Al-'Umr, Pustaka Al-Kautsar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar